Senin, 09 April 2012

Hukum Aqliy, Syar'iy, 'Adiy.

                                                                                          
                                                                                              

                                                                  I L M U   T A U H I D   

 

I.       Rukun Islam.

Adapun ‘ilmu pengatahuan Adapun rukun Islam yang  (pertama) yaitu :

Mengetahui  akan  ma’na  Dua kalimat syahadat  yaitu:  yang  dikatakan ‘ilmu Ushuluddin dan ‘ilmu Tauhid dan inilah yang dikehendaki sebutannya disini. Bermula (pertama) wajib atas tiap-tiap  mukalaf  bahwa Ia mengenal  pada Allah Azza  wajala  dengan  segala  shifatNya  yang  wajib  bagiNya  dan   yang mustahil padaNya dan yang harus, sebagai mana akan nanti tersebut.  Bahwa sekalian itu termasuk pada ma’na  Dua kalimat syahadat  jua adanya.

Adapun ‘ilmu pengatahuan lain-lain rukun Islam yaitu yang dikatakan ‘ilmu Fiqih,  maka wajib pula atas tiap-tiap  mukalaf  bahwa  mengetahui  akan ilmu segala  yang  wajib  atasnya  seumpama  shalat, puasa, zakat  dan haji, demikianpula ‘amal-‘amal lain yang  sunat, atau segala amal yang hendak dikerjakannya. Bahwa karena tiada shah beramal dengan jahil pada hukumnya, sebagai manadalilnya dari kitab dzubad mengatakan :

“Bighairi  ‘ilmin  ya’malu-A’maluhu  marduudahu  taqbalu.”

Tiap-tiap orang  beramal  tiada ‘ilmu,  maka ‘amalnya itu akan dibalikkan kepadanya.’’  

{Maka sama dikatakan juga tiada dikabulkannya jua adanya}.

Adapun dalil  wajibnya segala ‘ilmu  yang tersebut itu yaitu, hadistnya

Rasulullah s.a.w  :

Thalabul ‘ilmi  fariidhatu  ‘alaa  kulli  muslimin.

Bermula menuntut ‘ilmu wajib atas tiap-tiap muslim.

Dan dalilnya Ma’rifat Allah Jalla wa azza terdahulu wujudNya dari lain- lain ‘ilmu yaitu dari kitab  Dzubad :

Auwwalu wajibin ‘alaa al-insani  ma’rifatu al-ilahi bistiiqaani.”

Bermula wajib atas manusia yaitu mengenal Allah dengan yaqiin.”

Dan dari kitab Khatab Al-Habib Thahir bin Husain .                                                 

Fa’lamu ayyuhal ikhwanu annal ashla wal asasa huwa ma’rifatul ma’bud qablal ‘ibadati  wadzaa lika haqiiqatu ma’nasy syahadati.

Ketahuilah oleh kamu asal agama yaitu mengetahui Tuhan yang disembah sebelumnya membuat ibadath padaNya dan mengetahui itu  haqiiqat  ma’na  kalimat syahadat.

Dan jika telah diketahui kewajiban ma’rifat Allah Taala atas tiap-tiap mukalafMaka diketahui awaluhum  bahwa artinya  ma’rifat  yaitu i’tiqad  yang  jidzim lagi mufaqat pada haq dengan dalil dan artinya  jidzim yaitu i’tiqat  yang putus  yang tiada ada syaknya lagi. Maka bukan sangka-sangka adanya.  Dan terbagi jidzim itu empat bagian sebagaimana dibawah ini adanya.

1.          {Jidzim}mufaqat pada {Haq}, dengan dalil maka itu yang dikatakan {ma’rifat}.

2.          {Jidzim}  mufakat pada {Haq}, tetapi tiada dengan dalil,  maka inilah yang dikata {taklik sahih}.

3.          {Jidzim} tiada mufakat pada {Haq}, dengan dalil maka inilah yang dikata {jahil murakaf}.

4.          {Jidzim} tiada mufakat pada {Haq}, dan tiada dengan dalil maka inilah yang dikata  {taklik  bathil}.

Adapun  dalil  yaitu  barang yang menunjukki atas kebenaran suatu barang, adapun dalil,  wujud-Nya Allah Ta’ala dengan segala shifat-Nya, adalah itu memudai dengan  dalil ajmali yaitu:  keadaan bumi, langit dan barang yang ada didalam keduanya.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala : 

Inna khalqis samaawati  wal  ardhi wakhtilafil laiyli wannahari la ayaatin  li ulil  albaabi”. 

 “Bahwasanya didalam kejadian segala langit dan bumi dan berselisihan malam dan siang sesungguhnya sekalian itu menjadi pertunjukkan atas  keadaan kekuasaan Allah Ta’ala yang menjadikan  sekalian,  yang demikian itu bagi mereka yang mempunyai  ‘aqal  pikiran adanya”. (QS. Ali Imran. 190).

Adapun ma’rifat Allah Ta’ala dan ma’rifat Rasul s.a.w,  terhenti atas pengetahuan  tiga  perkara yang tersimpan didalam  hukum  syar’iy  dan hukum  ‘adiy  karena boleh dapat kebedaan satu lain adanya.

A.         Hukum  ‘Aqliy.

Yaitu hukum ‘aqal yang sempurna yaitu cahaya yang terletak dihati mu’min, dengan cahaya itu dapat diketahui segala ‘ilmu dharuriy  yaitu  yang  tiada  berhajat  pada  dalil  dan ‘ilmu nazhar yaitu berhajat pada dalil.

Dan artiya hukum ‘aqal, yaitu, menetapkan suatu barang bagi suatu barang  atau  menafikannya padanya dengan tiada terhenti atas berulang- ulang seperti hukum ‘Adiy.  Dan tiada terhenti atas tertaruk oleh yang menaruk seperti hukum Syar’iy.

Bermula tersimpan hukum ‘Aqliy didalam tiga perkara :

1.                Wajib  yaitu:  barang yang tak dapat  pada  ‘aqal tiadanya.

2.                Mustahil  yaitu: barang yang tak dapat  pada  ‘aqal  adanya

3.                Jaiz  yakni harus yaitu: barang yang shah pada  ‘aqal  adanya    dan  tiadanya.

B.              Hukum  Syar’iy.

Artinya hukum syar’iy  yaitu, perintah  Allah  Ta’ala  dengan perbuatan mukhalaf  karena memberitakan perintahan maka, dikatakan khathaba kalifah. Kedua  menentukan sebab atau syarath atau mana’a maka itu dikata khatabal  wadha’  ditaruk oleh Allah Ta’ala akan hukum itu. Maka terbagi hukum syar’iy  dengan dua ma’na ini atas tujuh bahagian yang tersebut dibawah ini.

1.            Wajib  artinya :  Barang  yang  dapat  pahala  jika dikerjakannya dan  dapat dosa jika ditinggalkannya.

2.       Sunnat   artinya : Barang yang dapat pahala jika dikerjakannya dan tiada dapat dosa jika ditinggakkannya.

3.           Haram  artinya : Barang yang dapat dosa jika dikerjakannya dan dapat pahala jika ditinggalkannya.

4.      Makruh artinya : Barang yang tiada dapat dosa jika dikerjakannya  tapi dibenci oleh Allah dan dapat pahala jika ditinggalkannya dengan karena Allah Ta’ala.

5.             Mubah   artinya :   Harus pada syara’ yaitu barang yang tiada dapat pahala jika dikerjakannya dan tiada dapat dosa jika dikerjakannya atau ditinggalkannya adanya.

6.       Shahih  artinya : Barang yang ada lengkap padanya segala  syaratnya dan segala rukunnya adanya.

7.        Bathil  artinya :  Barang yang kurang syaratnya atau kurang rukunnya yaitu lawannya shahih jua adanya.

C.               Hukum  ‘Adiy.

Artinya hukum ‘adiy  yaitu, menetapkan suatu barang bagi suatu barang, atau menafikan suatu barang pada suatu barang dengan lantaran berulang-ulang serta shah bersalahan, dan juga dengan tiada memberi bekas salah suatu itu pada yang lain. Maka terbagi  hukum ‘adiy atas (empat perkara) yang tersebut dibawah ini.

1.     Pertambatan keadaan suatu barang dengan keadaan suatu barang lainnya, seumpama : Keadaan kenyang dengan keadaan makan.

2.                Pertambatan ketiadaan suatu barang dengan ketiadaansuatu    barang lainnya, seumpama : Ketiadaan kenyang dengan ketiadaan makan.

3.      Pertambatan keadaan suatu barang dengan ketiadaan suatu barang,  seumpama :  Pertambatan keadaan dingin dengan      ketiadaan kain baju adanya.

4.      Pertambatan ketiadaan suatu barang dengan keadaan suatu barang lainnya, seumpama :Ketiadaan hangus dengan keadaan tiada air menyiram jua adanya.

Bermula, jika telah diketahui akan artinya  wajib syar’iy dan  wajib ‘aqliy, bahwa keduanya berlainan ma’na. Maka apabila dikata wajib atas tiap-tiap mukalaf, maka maksudnya itulah  wajib  syar’iy.  Dan jika  wajib  bagi  Allah Ta’ala atau bagi Rasul, maka maksudnya ialah  wajib ‘aqliy dan demikianlah pula jika dikata  Jaiz  bagi  Allah Ta’ala  atau  harus  harus bagi  Allah Ta’ala maka maksudnya ialah  jaiz  ‘aqliy  dan jika  jaiz  bagi mukalaf  membuat  masyalah,  maka maksudnya yaitulah  jaiz  syar’iy  jua adanya

Bermula yang wajib bagi  Allah Jalla wa ‘azza  dengan tafshil inilah  {dua puluh shifat} yang  telah berdiri  dalil ‘aqliy dan dalil naqliy atasnya.  Dan tersebut dibawah tiap-tiap satu shifat  dengan maknanya beserta dalilnya, beserta lagi tersebut kepatutan, kelakuan orang  mukmin yang  me’itiqad  pada  Allah bershifat dengan shifat-shifat itu.  Maka itulah kelakuan mukmin yang sempurna imannya. 

Adapun lain-lain shifat Allah Jalla wa’azza yang tiada ada hingganya banyaknya. Maka wajib atas tiap-tiap mukalaf  mengetahuinya {ajmal} saja didalam perkataan  muttashifu  kamalin yaitu bershifat Allah Ta’ala dengan tiap-tiap shifat kesempurnaan. Adapun yang mustahil pada Allah Jalla wa’azza dengan tafshil, maka adalah itu {dua puluh} perkara yaitu lawannya {dua puluh shifat} yang wajib satu persatu disebut sesudahnya shifat itu. Adapun yang mustahil pada Allah Jalla wa’azza dengan {ajmal} yaitu ada didalam perkataan :

“Munazzahu ‘an-kulli naqshin wamaa khathara bil-bali.’’

“Maha  suci  Allah dari pada  tiap-tiap  shifat  kekurangan dan  Maha  suci  dari  barang yang tercita-cita didalam hati.’’

 

                              

Tidak ada komentar:

Posting Komentar